Posted by: NAFLA | January 20, 2010

Peringatan Ilmuwan: Padang akan diguncang Gempa 8,5 SR

Jakarta – Sejumlah ahli seismik yang dipimpin oleh ilmuwan terkenal  John McCloskey menulis  artikel untuk  majalah jurnal “Nature Geoscience”. Dalam artikel tersebut dia memperingatkan bahwa di lepas pantai pulau Sumatra Indonesia, serta kota Padang  akan terjadi gempa bumi dasyat yang memicu tsunami besar.Kerusakan yang diakibatkan gempa dan tsunami dapat menyebabkan korban tragis yang cukup besar seperti yang terjadi pada tsunami 2004 di Asia Selatan.

Tim ini secara akurat telah memprediksi gempa bumi tahun 2005 di Sumatera. Dan ilmuwan dari Texas University di Amerika juga memperingatkan bahwa tekanan pada patahan  lempengan Haiti semakin meningkat, negara-negara tetangga yang terbawa oleh patahan  lempengan, perlu mempersiapkan diri dalam menghadapi gempa bumi dasyat yang akan melanda.

Berita dari BBC mengatakan, sejak terjadi tsunami Samudera Hindia pada tahun 2004, Guru Besar McCrosky dari University of Ulster di  Irlandia Utara, memimpin sebuah tim mulai melakukan analisis penelitian gempa. Tim ini secara akurat telah meramalkan gempa bumi di Sumatra pada 2005.

Setelah gempa bumi Haiti, dia menunjukkan bahwa masyarakat internasional tidak mempunyai program seismik, itu adalah sesuatu yang  “memalukan”. Dia mengatakan pemerintah seharusnya terlebih dahulu melakukan pencegahan sebelum gempa, daripada penyelamatan setelah terjadi. Setiap negara akan mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum perang, sangat sedikit masyarakat internasional yang memikirkan orang miskin dalam bencana.

Gempa bumi lebih 8,5 di lepas pantai Indonesia tak terelakkan

Para peneliti menyatakan bahwa penyebab ancaman adalah selama 200 tahun, tekanan pada salah bagian palung Sunda (Sunda Trench) meningkat terus. Palung Sunda sejajar dengan Pantai Barat Pulau Sumatera, merupakan salah satu zona seismik yang paling terkenal di dunia.

Dalam artikel itu para peneliti tidak menyangkal bahwa bagian Mentawai (Mentawai patch) “telah  dekat dengan titik kritis”, dan menyatakan bahwa gempa bumi tidak dapat dihindari. Bagian ini di Indonesia dikenal dengan  Kepulauan Mentawai.

Profesor McCrosky mengatakan, gempa bumi Pulau Sumatra yang terjadi pada tahun lalu yang menewaskan lebih dari 1.000 orang lebih, bukanlah sebuah gempa bumi besar. Biasanya para ahli gempa tidak dapat memprediksi kapan gempa bumi akan terjadi dan berapa besar intensitas seismiknya, akan tetapi tim ini memperingatkan, ” mungkin dapat terjadi gempa bumi dasyat lebih dari 8,5 skala di bagian Mentawai, dan menyebabkan gelombang tsunami besar,” dikatakan kenangan mengerikan tentang tsunami Asia Selatan pada tahun 2004, kemungkinan besar akan terulang dan lebih serius.

Dalam artikelnya para peneliti menunjukkan: “ancaman tsunami ini sangat jelas, pemerintah harus segera mengambil tindakan mencegah kemungkinan terjadinya masalah besar.”

Gempa tahun lalu belum bisa mengurangi tekanan

Pada bulan Maret 2005, McCrosky telah memperingatkan pada zona gempa Indonesia akan terjadi gempa bumi dengan skala 8,5, dan akan memicu tsunami, dalam waktu dua minggu setelah ramalan gempa teradi. 28Maret 2005, di Pulau Simeulue terjadi gempa bumi berkekuatan 8,6, dan memicu tsunami dengan ketinggian tiga meter.

Pada bagian bawah Pulau Siberut yang terletak di Sumatra, tempat tsb pada 1797 terjadi gempa bumi dasyat dengan skala 8,7, yang mengakibatkan pergeseran lempengan patahan hingga 10 meter, dan memicu tsunami, menghanyutkan Padang serta daerah sekitarnya. Sejak itu, tekanan lempengan tsb semakin menumpuk, gempa bumi dahsyat yang terjadi pada tahun lalu, belum bisa mengurangi tekanan yang ditahan oleh wilayah Mentawai.

Tim McCrosky menunjukkan bahwa setelah gempa bumi pada tahun 2009, mega-thrust strain-energy (energi regang) di bawah Pulau Siberut secara garis besar dapat dikatakan tidak berubah. Pulau Siberut adalah Pulau paling besar dalam kepulauan Mentawai.

Dalam sebuah laporan riset yang diterbitkan oleh ilmuwan dari UC Berkeley tahun lalu mengatakan, gempa bumi berkekuatan 9,1yang melanda wilayah barat Sumatra pada bulan Desember 2004, telah menyebabkan lempengan patahan yang secara erat dimonitor di San Andres di California yang jauhnya 8.000 kilometer lebih rentan, hal ini menunjukkan bahwa gelombang gempa dasyat memang akan mempengaruhi sisi lain dari bumi.

Paul Mann seorang Geophysicist dari University of Austin Texas State Amerika Serikat, pada hari Jumat tgl 15 Januari mengatakan dalam AFP, memperingatan negara Haiti dan negara tetangganya yang baru saja terkena gempa, harus lebih intensif mempersiapkan diri menghadapi gempa lebih dasyat yang akan melanda. Dia menunjukkan bahwa walaupun tekanan lapisan tanah pada Port-au sudah melemah, namun tekanan pada lempengan patahan yang berhubungan dengannya sedang meningkatkan.

Mann mengatakan bahwa lempengan patahan ini panjang beberapa ratus kilometer, sedang yang menyebabkan gempa bumi kali ini hanyalah salah satu zona retakan yang panjangnya 80 km, masih ada sejumlah zona retakan yang telah diam selama beberapa abad sedang bergerak secara perlahan. untungnya, kota yang terletak di zona lempengan patahan, hanya ada Port-au-dan Kingston ibukota Jamaika.

Kota kecil Kalubanuo yang terletak di Laut Karibia Venezuela pada Jumat lalau terjadi Gempa berkekuatan 5,6, tapi untungnya dilaporkan tidak ada luka.

Selain itu, California timur hanya dalam waktu singkat 15 hari, telah terjadi 23 kali gempa bumi.(djy/lim) sumber http://erabaru.net/


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: