Posted by: NAFLA | September 9, 2009

Makna dan Keutamaan Puasa Ramadhan

Ramadhan hasmi-orgPuasa dengan persembahan untuk Tuhan
oleh : Jalaluddin Rakhmat

Seorang anggota jama’ah – sebut saja Fatimah – mengadu kepadaku, ” Setiap kali masuk Ramadhan, saya merasa sedih. Saya bertambah sedih karena saya merasa sedih. Bukankah kata pak Ustadz, Rasulullah dan sahabatnya menyambut Ramadhan dengan gembira.”
Matanya berkaca- kaca dan hidungnya memerah. Aku yakin ia menangis beneran. Betapa sering aku menemukan dalam majlis – majlis pengajian Ustadz yang menangis bohongan dan pendengar yang menangis beneran.
“Apa yang menyebabkan ibu menangis?” tanyaku.
“Saya seperti orang pulang kampung. Saya ingin membahagiakan keluarga saya. Saya ingin memberikan hadiah paling berharga buat mereka. Tetapi saya miskin. Saya tidak punya apa – apa yang berarti. Yang teronggok dipunggung saya hanya kotoran. Ramadhan mengantarkan saya kepada Tuhan, kampung halamanku. Saya ingin membuat Tuhan Ridho kepadaku. Tetapi saya tidak membawa apa – apa. Di atas punggung saya teronggok dosa dan dosa !” Isakannya semakin keras. Dan giliran ustadz untuk ikut menangis; kali ini , menangis beneran.
“Tidak perlu bersedih Bu,” kataku setengah hati. Setengah hatiku membisu dalam kesedihan. “Jika kita menemui Ramadhan tanpa bekal, marilah kita jadikan bulan ini untuk mengumpulkan hadiah – hadiah yang berharga untuk Tuhan. Jika kita datang dengan onggokan dosa, marilah kita campakkan dosa – dosa itu dengan taubat kita.”
Seperti biasa, dengan cepat aku bermetaforsa dari seorang konselor menjadi seorang khatib. Tampaknya lebih mudah berkhotbah daripada berempatik.
“Itu juga menambah dukaku, Ustadz. Setiap Ramadhan tiba, ketika semua orang berusaha untuk tarawih setiap malam, saya sering meninggalkannya. Ketika tetangga – tetangga bercerita bahwa mereka sudah menyelesaikan sekian juz Al-Qur’an, saya tidak dapat melakukannya. Satu juzpun tidak sempat saya baca. Pada malam Lailatul Qodar kawan – kawan saya boleh bermalam – malam iktikaf di masjid bahkan ada yang berumrah ke Tanah Suci, saya tidak sanggup meninggalkan pekerjaan saya.”
“Saya ini orang kaya, membesar dalam keluarga kaya. Di rumah saya punya banyak pembantu dan di pejabat saya punya banyak pegawai. Kemanapun saya pergi, saya dilayani orang. Pada bulan puasa, saya ingin melayani orang. Saya ingin berkhidmat pada orang – orang kecil. Saya menyiapkan makanan untuk orang – orang miskin. Saya berbelanja, memasak, membungkus, dan mengantarkan makanan kerumah – rumah mereka. Selepas Isya’, setelah selesai membagikan makanan, saya pulang dalam keadaan lelah. Saya segera tidur pulas. Pada Lailatul Qodar, saya bukan hanya membagikan makanan untuk berbuka puasa, tetapi juga untuk sahur. Saya begadang juga ustadz, cuma bukan di masjid, tetapi di tempat – tempat kumuh.”
“Jadi pada waktu ‘Idul Fitri, ketika kaum muslim yang lain bergembira karena boleh mengumpulkan hadiah untuk Tuhan (khatam Qur’an, lengkap sholat tarawih, banyak iktikaf dan dzikir) saya sedih lagi. Mereka berhasil “menangkap” anugerah Tuhan di bulan Ramadhan, saya tidak!” puasa dengan perkhidmatan.
Ibu Fatimah sedih karena ibadah Ramadhan-nya  berbeda dengan kebanyakan orang. Ia sedih karena tidak sanggup dan tidak sempat bertarawih, bertadarus, beriktikaf, dan berdzikir bersama. Ia menganggap hadiah yang paling berharga untuk Tuhan adalah ibadat (dalam makna ritual).
Alkisah, Nabi Musa bermunajat kepada Allah SWT, Sang MahaSuci bertanya, “Hai Musa, banyak sekali ibadahmu, yang mana untuk-Ku?” Musa terkejut mengapa Dia bertanya tentang ibadatnya, sebab semua ibadatnya untuk Tuhan; Sholatku, hajiku, korbanku, do’a dan dzikirku.”Semuanya untuk kamu, mana untuk-Ku? Musa bingung dan berkata : “Tunjukkan pada hambamu yang lemah ini, mana ibadatku untuk-Mu!”, Berkhidmatlah kepada hamba – hamba – Ku!. Bagus sekali memang kalau kita dapat menjalankan ibadat – ibadat itu dengan sebaik – baiknya. Semua untuk kita juga. Seperti disebutkan dalam hadits, dengan berpuasa dan bertarawih yang ikhlas, kita memperoleh pengampunan sari Allah SWT. Ampunan itu jelas untuk kita, dengan membaca satu ayat Al-Qur’an saja di bulan Ramadhan, kita memperoleh pahal sama dengan mengkhatam Al-Qur’an di bulan lain. Anugerah Allah SWT karena mengkhatam Al-Qur’an diberikan kepada kita. Ibadat pada Lailatul Qodar sama nilainya dengan beribadah seribu bulan. Pahalanya lagi -lagi untuk kepentingan kita.
Ibu Fatimah merasa sedih karena Ramadhan mengantarkannya untuk pulang kepada Tuhan. Ia ingin memberikan hadiah untuk membuat Tuhan ridho kepadanya. Ia merasa bahwa hadiah berupa sholat, tadarus, dan sebagainya itu adalah persembahan untuk Tuhan. Sekiranya ia banyak melakukan ibadat – ibadat itu, nun disana di ‘Arasy yang agung, Tuhan berkata:”Semua untuk kamu, mana untuk-Ku. Memang kita memerlukan semua anugerah itu: kasih sayang Tuhan, ampunan-Nya, dan pembebasan dari api neraka. Kita membutuhkan karunia-Nya untuk kebehagiaan kita di dunia dan akhirat.
Namun, ibu Fatimah memerlukan lebih dari itu, ia ingin melakukan sesuatu untuk Dia. Ia ingin memberi-Nya hadiah yang berharga. Ketahuilah, hai Fatimah-sekiranya Anda membaca Artikel ini, -anda sudah berada on the right track. Berkhidmatlah kepada hamba – hamba-Nya. Sekiranya anda sedih karena beranggapan anda tidak sempat sholat tarawih yang lengkap sehingga kehilangan ampunan Tuhan, semaklah hadits Qudsi berikut ini(lihat hasan Syirazi, Kalimat Allah, hal 232):
“Hai Musa, tahukah kamu berapa besarnya kasih sayangKu padamu?”
“Engkau lebih penyayang kepadaku ketimbang ibuku.”
“Hai Musa, sesungguhnya ibumu menyayangi kamu karena anugerah kasih-Ku jua. Akulah yang melembutkan hatinya sehingga ia sayang padamu. Akulah yang membaikkan hatinya supaya ia meninggalkan kebaikan tidurnya untuk merawatmu. Sekiranya Aku tidak melakukannya, maka akan samalah ibumu dengan perempuan lainnya di dunia.”
“Hai Musa, tahukah kamu bahwa ada seorang hamba diantara hamba – hamba-Ku yang mempunyai dosa dan kesalahan yang begitu banyak sehingga memenuhi sudut – sudut langit. Tetapi Aku tak hiraukan dosa – dosanya, semua Aku ampuni.”
“Mengapa tidak Kau hiraukan, ya Rabb?”
“Karena satu hal mulia yang Aku cintai dalam dirinya: ia mencintai fakir miskin. Ia bergaul akrab dengan mereka. Ia menyamakan dirinya seperti mereka. Ia tidak sombong. Jika ada hamba-Ku seperti dia, Aku ampuni  dia dan Aku tidak hiraukan dosa – dosanya. “Puasa tanpa Perkhidmatan
Sampai disini kita tahu bahwa ibu Fatimah tidak selayaknya bersedih hati. Ia sudah menjalankan puasa dengan hadiah berharga untuk Tuhan: Perkhidmatan. Yang harus berduka justru mereka yang berpuasa dengan persembahan untuk Dia. Celakalah orang yang berpuasa dengan kedzaliman, lawan dari perkhidmatan. Mereka bahkan tidak mendapat apapun untuk dirinya. “Betapapun banyaknya yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa – apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga,”sabda Nabi Muhammad SAW.
Pada bulan Ramadhan Nabi memergoki seorang perempuan yang memaki budaknya. Ia memanggil perempuan  itu dan menyuruhnya berbuka. Perempuan itu berkata:”Inni shaimah (aku berpuasa).” “Bagaimana mungkin kamu berpuasa tetapi kamu maki – maki budakmu.”
Nabi mengingatkan perempuan itu bahwa bulan Ramadhan itu adalah bulan perkhidmatan, bukan makian. Memaki hamba Allah akan menghapuskan semua pahala puasanya. Supaya puasa itu berfaedah bagi kamu, tinggalkan segala macam kedzaliman, terutama kepada orang kecil.
Dilaporkan kepada Nabi tentang seseorang yang selalu berpuasa di waktu siang dan bangun malam untuk sholat tetapi sering menyakiti tetangganya dengan lidahnya. Nabi menjawab singkat : ia di neraka!
Ayat berikut ini ditujukan untuk orang – orang yang bersedekah di bulan suci Ramadhan tetapi menyertai sedekahnya dengan kata – kata yang menyakitkan hati:” Hai orang – orang yang beriman, jangan kamu batalkan sedekahmu dengan menyebut – nyebutnya dan menyakiti hati sebagaimana orang yang menginfakkan hartanya untuk dipamerkan di tengah – tengah manusia…”(Al Baqarah 264).
Orang yang sholat – baik di bulan Ramadhan maupun bukan – dan tidak melakukan perkhidmatan diancam dengan kecelakaan (neraka): Maka celakalah orang – orang yang sholat; yang lalai dalam sholatnya; yang hanya pamer saja; yang tidak memberikan pertolongan”(Al-Ma’un 5-7).
Jadi, supaya semua ibadat kita di bulan suci Ramadhan ini mendatangkan faedah yang bernilai bagi kita, tinggalkan segala macam kedzaliman. Dan supaya puasa kita menjadi persembahan yang Agung bagi-Nya, sertailah semuanya dengan perkhidmatan.
“Semua makhluq adalah keluarga-Ku. Makhluq yang paling Aku cintai adalah yang paling penyayang pada makhluq yang lain, yang paling bersungguh – sungguh dalam memenuhi keperluannya”(hadits qudsi).


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: